Kesalahan Pemimpin Yang Mematikan

Posted on

Kesalahan Pemimpin Yang Mematikan Kesuksesan sebuah usaha bisa dilacak berdasarkan pemimpinnya. Edwin H. Friedman mengatakan, "Kepemimpinan bisa dipercaya sebagai kapasitas buat memilih diri sendiri menggunakan orang lain dengan cara yang jelas & memperluas visi masa depan." Penting buat mengenali apa yg positif & efektif di masing-masing pemimpin, tapi pula penting buat menyadari kendala yg mungkin dihadapi. Kepemimpinan yg sukses berkembang dari saat ke waktu, dan hanya mampu ditingkatkan menggunakan pengetahuaun bagaimana mendiagnosa dan memperlakukan pemimpin. Artikel ini mengambil perumpamaan tujuh kesalahan yg mematikan:

Kesalahan pertama merupakan dengan menduga bahwa karyawan mengetahui sasaran dan tujuan perusahaan. Bahkan bila perusahaan Anda telah menerapkan rencana stratejik yg luar biasa, akan tetapi nir terdapat adalah kecuali dipahami dan dihadapi di semua level. Pemimpin yg efektif wajib meluangkan waktu buat melatih & mengajarkan karyawannya sasaran perusahaan. Pemimpin jua bertanggung-jawab dalam memilih tujuan. Tujuan & target harus tak jarang diulang setiap kali sebuah tujuan ditetapkan pada perusahaan. Dengan berulangkali memutuskan tujuan dan target pada pada pikiran, karyawan akan mendapatkan pengetahuan dan pemahaman apa yg dipegang oleh perusahaan.

Kesalahan kedua merupakan pendekatan seleksi & perekrutan & menentukan dengan asal-asalan. Studi menerangkan dalam hal skenario terbaik, karyawan yg berkualitas, dengan pekerjaan yang sesuai, ketika yang digunakannya hanya 14%nya saja. Tanpa meluangkan ketika yang sempurna buat merekrut karyawan, perusahaan beresiko membuang waktu, upaya & uang buat seorang yang nir memiliki kualitas di posisi penting. Praktek perekrutan yang bermutu di semua level menaikkan kinerja holistik. Wawancara yang selektif dan cek latar belakang sanggup membantu karyawan menciptakan citra konduite sebelumnya menggunakan seksama, akan tetapi screening pra-perekrutan buat karyawan potensial adalah prediksi yang lebih akurat buat konduite mendatang.

Kesalahan ketiga dalam kepemimpinan merupakan beranggapan orang-orang Anda terlatih. Gagal membuatkan talenta karyawan melalui pelatihan yang tepat merupakan pemborosan sumberdaya. Banyak perusahaan menghabiskan lebih banyak ketika buat bernegosiasi & membayar kontrak perawatan alat-alat merek daripada melatih stafnya. Namun mereka menjamin karyawan mereka merupakan aset utama mereka. Dengan berinvestasi pada karywan, perusaaan menginvestasikan kesuksesan masa depan mereka. Pelatihan memastikan kesuksesan karyawan. Tanpa pelatihan & pengembangan yg sempurna, perusahaan akan menciptakan karyawan gagal.

Gagal mengevaluasi dan mengukur merupakan kesalahan ke-empat. Praktis buat jatuh ke dalam kebiasaan "bisnis seperti biasa". Dibutuhkan sedikit upaya buat melakukan tugas menggunakan mengingatnya pada luar kepala atau melakukan sesuatu menggunakan cara yang sama hanya karena mereka selalu melakukannya menggunakan cara demikian. Anda wajib menilai aktivitas bisnis secara monoton. Apakah mereka diperlukan dan relevan? Apabila demikian, maka aktivitas ini harus pada lacak buat menilai keefektifan serta efisiensinya. Mampu mengukur kesuksesan Anda akan mempermudah buat memilih tujuan, & memotivasi karyawan menggunakan data yang konkrit.

Apabila Anda menduga Anda melakukan pekerjaan dengan baik dan pelanggan Anda senang , Anda melakukan kesalahan angka 5. Menganggap pelanggan puas hanya karena Anda nir menerima keluhan bukan barometer yg seksama. Bisnis Anda wajib mempunyai mekanisme untuk mendorong feedback pelanggan. Situs jejaring sosial, komunikasi elektronika & opsi website memberikan menyebarkan kemudahan bagi pelanggan untuk menaruh feedback yg berarti. Dengan menerapkan saran yg bernilai berdasarkan pelanggan akan direfleksikan menjadi peningkatan dalam kesuksesan perusahaan Anda.

Kesalahan keenam merupakan, gagal memberikan feedback yg sesuai. Kekhawatiran akan terjadinya permasalahan sanggup mengakibatkan pemimpin menghindari menyebutkan perilaku yg tidak mampu diterima atau membutuhkan akuntabilitas. Baik apakah melalui tinjauan kinerja atau pembicaraan waktu aktivitas sehari-hari, feedback yg konstruktif & berarti dibutuhkan untuk menghasilkan kinerja yg baik & membantu pengembangan karir karyawan. Dalam sebuah studi yang dilakukan sang Salary, menggunakan dua,000 karyawan dan 330 profesional HR, 2 per 3 perusahaan yakin tinjauan kinerja mereka efektif, tapi hanya 39 persen karyawan yg sepakat. Untuk menaruh feedback yg efektif, mulai berkomunikasi menurut awal dengan karyawan terkait dengan asa dan kinerjanya. Tinjauan akhir tahun selalu menandai insiden masa kemudian. Ini jauh lebih aktif dan memotivasi buat terus berkomunikasi dengan karyawan. Ini juga akan memungkinkan terjadinya kesalahan atau mis-komunikasi yg harus diperbaiki lebih awal dan meninggalkan penyelesaian yg lebih sedikit pada lalu hari.

Kesalahan terakhir merupakan: nir memasarkan (gagal memahami hubungan antara marketing & sales). Bahkan usaha dengan energi sales yg cantik sekaligus wajib secara aktif memasarkan diri mereka. Pemasaran & disiplinnya berdasarkan humas, riset, & advertising adalah hal penting. Disiplin ini menemukan strategi buat mengidentifikasi pasar baru, berkomunikasi dalam prospek & klien, & buat memutuskan merk dan pesan pada semua konstituen Anda. Gagal buat secara aktif mengejar strategi ini menghamat kemampuan bisnis Anda untuk berkompetisi.

Ke-tujuh kesalahan kepemimpinan ini masih belum relatif, berikut sebuah tambahan buat Anda.

Kesalahan ke delapan merupakan memperlakukan karyawan sebagai komoditi. Perusahaan manapun yg pernah mengalami biaya yang tinggi buat turnover karyawan tahu alat ini: porto penggantian, hilangnya produktivitas dan menurunnya moral. Memperlakukan karyawan seperti komoditi dan mereka akan meresponnya dengan meninggalkan Anda secepatnya buat mendapatkan penawaran yang terbaik. Ini sangat krusial buat keuntungan dan produktivitas perusahaan buat menjaga keterlibatan & motivasi karyawan. Jika karyawan berkembang & puas mereka akan membentuk pekerjaan yg bermutu.

Kepemimpinan yang efektif sanggup dicapai melalui upaya & pemahaman. Para pemimpin yang sukses sangat menyadari kekurangan dan kelemahan mereka & bertindak menciptakan kekuatan menurut kelemahan mereka. Pemimpin menentukan kerangka kerja sebagai dasar perusahaan yang dikendalikan. Dengan pengetahuan atas kesalahan generik ini, pemimpin bisa melengkapi dirinya dengan lebih baik untuk melakukan pengukuran pencegahan buat masa depan yang lebih baik.

Seorang pemimpin perlu menyempurnakan ketrampilan dan kepemimpinannya supaya terhindar berdasarkan kesalahan-kesalahan yg nir perlu. Bagaimana caranya?

Para pakar manajemen sepakat bahwa memimpin perusahaan tidak sekedar mengelola nomor -angka. Merumuskan strategi organisasi, konsentrasi meraih keuntungan, dan people manajemen justru sebagai faktor krusial dalam memilih sukses tidaknya seseorang pemimpin.

Ada 5 unsur utama yang memilih keberhasilan sebuah kepemimpinan organisasi, yakni produk berkualitas atau mempunyai kekhasan tersendiri, momentum yg sempurna, modal yg memadai, sumber daya manusia yang berkualitas, serta manajemen yg efektif. Kelima unsur tadi, dari Steven Brown pada kitab 13 Fatal Errors Managers Mistakes and How You Can Avoid Them, bersifat mutlak dan saling terkait.

Artinya, tanpa manajemen yang efektif, seorang pemimpin nir akan bisa merogoh keputusan yg tepat mengenai spesifikasi produk & momentum yg sempurna buat memperkenalkannya ke pasar. Perusahaan yg manajemennya amburadul juga tidak sanggup menerima kapital yg memadai, apalagi mempertahankannya. Lebih menurut itu, people hanya sanggup dilatih dan dikembangkan menggunakan lebih baik bila manajemen yg memayunginya dalam kondisi baik juga.

Setiap pemimpin yg berpandangan ke depan semestinya tahu bahwa asal daya yg tidak ternilai pada setiap perusahaan adalah potensi manusianya. Sebagai pemimpin, beliau bertanggungjawab buat menyebarkan bakat yg sangat luas tadi. Sebegitu pentingnya unsur asal daya insan, seorang eksekutif puncak di sebuah perusahaan besar pada Amerika pernah berujar: "Ambilah semua harta aku , dari bukan organisasinya. Maka dalam lima tahun kedepan saya akan mampu memperoleh semuanya pulang."

Masalahnya, nir semua pemimpin bisa mengelola perusahaannya dengan sahih. Menurut catatan Steven Brown yg sudah bertahun-tahun bertugas menjadi konsultan, setidaknya terdapat beberapa kesalahan fatal yg dilakukan oleh seorang pemimpin. Kesalahan tadi merupakan:

Gagal Mengembangkan Orang

Salah satu tujuan primer manajemen merupakan kelangsungan usaha itu sendiri, meski terdapat perubahan saat danorang-orang yang mengelolanya. Itu adalah, bila suatu saat perusahaan yang anda bangun akhirnya menjadi runtuh sehabis anda tinggalkan, maka anda layak merasa bersalah dan gagal dalam berbagi estafet kepemimpinan.

Sering terjadi, lantaran aneka macam alasan, nir percaya kemampuan seseorang, contohnya seseorang pemimpin merasa perlu melakukan segala sesuatunya sendiri. Tidak terdapat pelimpahan kewenangan & kekuasaan. Akibatnya, selain disibukkan oleh urusan yang sebenarnya tidak perlu, pemimpin tadi secara tidak sadar sudah melewatkan kesempatan untuk membentuk kader-kader pemimpin baru.

Apabila anda ragu tentang perlunya membangun people sekuat mungkin, ilustrasi berikut mampu sebagai gambaran. Seseorang memulai sebuah bisnis, dan usaha itu terus bertahan selama beliau masih bekerja. Lalu, perusahaan itu perlahan-lahan lenyap setelah para penggantinya menggantikan selama lebih kurang setengah jangka saat kerja suatu generasi.

Mengendalikan Hasil, Bukan Mengendalikan Cara

Cara berpikir seorang tentu bhineka. Ini juga yg menjadi karena mengapa beberapa orang mampu lebih produktif ketimbang yg lain. Kebanyakan pemimpin tak jarang memukul rata mengenai unjuk kerja karyawannya. Terlebih lagi buat pekerjaan-pekerjaan yg sangat mudah terlihat hasilnya, misalnya bidang penjualan.

Padahal setiap karyawan, misalnya tadi sudah disinggung mempunyai cara pandang & perasaan yg berbeda-beda untuk suatu masalah. Karena itu buat menghindari persepsi yang galat itu, seorang pemimpin mesti melihat dalam sebuah kerangka rangkaian yang utuh, yakni melalui pikiran, perasaan atau logika budi, aktivitas & lama -usang menjadi norma, kemudian memberikan output. Apabila rangkaian tadi dipergunakan, maka pemimpin akan menggunakan gampang melakukan perubahan drastis pada membangun produktifitas karyawan.

Bergabung menggunakan Kelompok yg Keliru

Poin primer dalam kasus ini merupakan bagaimana seseorang pemimpin membuatkan sikap, terutama mengenai kesetiaan. Seorang pemimpin seringkali dijadikan sebagai pejuang bagi orang-orang yg melawan kebajikan, tujuan & sasaran perusahaan.

Jika hal itu terjadi, anda harus menolak sekalipun yg mengajak anda merupakan seorang pemimpin sejawat anda atau sekumpulan beberapa karyawan.

Seragam dalam Mengelola Orang

Pemimpin yg mengelola anak buahnya dengan cara yang sama atau satu teknik saja, seringkali mengalami kekecewaan. Pemimpin yang baik mestinya peka terhadap perbedaan & kepribadian masing-masing staf.

Oleh karena itu, pemimpin harus menyadari & memanfaatkan perbedaan tadi menjadi sebuah kekuatan.

Melupakan Pentingnya Laba

Tujuan primer sebuah organisasi merupakan menjaga kelangsungan organisasi tadi. Untuk tujuan tersebut, perusahaan mestilah meraih keuntungan buat membiayai kelangsungan tadi. Seringkali terjadi, pada perusahaan masing-masing divisi merasa lebih krusial ketimbang divisi yang lain. Hal ini bisa menciptakan seseorang pemimpin nir fokus & akhirnya melupakan pentingnya keuntungan.

Terpaku Pada Persoalan, Lupa Tujuan

Salah satu alasan mengapa seorang pemimpin tidak efektif merupakan karena ia terpaku pada kasus-masalah sederhana, misalnya kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan anak buahnya atau orang lain.

Daripada membuang-buang tenaga untuk mencari-cari kesalahan orang lain, tentu lebih baik apabila seorang pemimpin melakukan pendekatan lain. Misalnya dengan mencari tahu, apa yg mensugesti prestasi seorang.

Bersikap Sebagai Sesama, Bukan Pemimpin

Usai jam kantor, banyak pemimpin perusahaan yg ingin bersikap sebagai orang biasa seperti sesama karyawan yg lain. Kemudian esok paginya dia akan bersikap menjadi pemimpin lagi. Banyak karyawan yang nir bisa mendapat perilaku misalnya itu. Seorang pemimpin memang harus memilih: menjadi pemimpin atau menjadi sesama karyawan. Tidak ada jalan tengah pada situasi seperti itu.

Alasannya sederhana, kalau tindakan seorang pemimpin terhadap karyawan sembrono, maka sebenarnya ia tidak hanya nir menghormati karyawannya. Lebih berdasarkan itu dia jua sudah mengajarkan pada karyawan buat nir menghormati atasannya. Seorang pemimpin tidak boleh terjebak pada perannya sebagai teman, psikiater atau pastor. Tugas pemimpin adalah bagaimana mengelola kehidupan sebuah perusahaan.

Gagal Menentukan Standar

Banyak pemimpin yg tidak menyukai konsep memilih standar. Bahkan mungkin mereka ingin menghindari pembicaraan mengenai hal itu, karena mereka menilai baku sebagai cara buat menghukum mereka yang gagal memproduksi atau yg nir kompromistis.

Orang yg beranggapan demikian sebenarnya tidak tahu galat satu kunci perusahaan yang dikelola menggunakan baik. Perusahaan memang nir usah memaksa orang buat tunduk pada sederetan panjang peraturan, namun dia harus memiliki target untuk membangun kebanggan langsung dan perusahaan.

Gagal Melatih Orang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *