Mendapatkan Penghasilan Luar Biasa Dari Jual Jagung Bakar

Posted on

a pernah trauma ketika menjadi seorang pengusaha di bidang perdagangan. Hal itu  membuatnya cenderung menghindari dunia usaha. Namun kini, pengalaman buruknya itu justru jadi pegangan untuk menjalani usaha yang lebih produktif. Salah satu usaha yang ia kelola saat ini ialah Futsal Champion di Jl MT Haryono Balikpapan.

RAHMAT SETYA HIDAYAT, Balikpapan

IALAH Herman Sarwana lahir di Balikpapan 28 tahun silam. Sejak kecil hingga remaja, tak ada gejala yang ditunjukkan jika arah hidupnya menjadi entrepreneur andal seperti saat ini. Ia bahkan tak mengenal bakat berbisnis.

Herman “kecil” adalah anak yang hidup di tengah keluarga yang berkecukupan. Hari-hari ia lalui layaknya pelajar pada umumnya. Pagi berangkat sekolah, lalu siangnya pulang sekolah. Selebihnya ia isi waktu dengan membantu sang ibu mengerjakan pekerjaan di rumah, dan  belajar. Hobi yang menonjol justru sebagai penyayang binatang. “Saya memang suka kucing,” ungkapnya.

Pria kelahiran Balikpapan 26 Desember 1983 ini lulus Sekolah Menengah Atas pada tahun 2002. Di tahun itu juga ia langsung berangkat ke Jogjakarta buat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sebagai anak muda, keinginannya buat berkuliah pada perguruan tinggi terbaik sangatlah bertenaga.

Ia ?Nekat? Merogoh 2 jurusan sekaligus, yakni Teknik Lingkungan di UPN dan Kesehatan Hewan pada UGM. Jurusan ini dia ambil dalam waktu yang bersamaan. Keduanya merupakan jurusan yang saling berkaitan, & sangat sesuai menggunakan Herman yang memang suka akan dunia binatang.

Setahun kuliah pada Jogja, dia menetapkan pergi ke kampung page, Balikpapan. Ini lantaran beliau ingin menikah menggunakan pujaan hatinya, Miranti Mahmud. Di sinilah beliau mulai mengenal sosok yg sering ia jadikan contoh pengusaha sukses. H Mahmud, ayah mertua Herman, adalah orang yg acapkali sebagai inspirasi dalam hidupnya.

Selepas menikah di tahun 2003, ia kembali ke Jogja bersama dengan oleh istri. Di sana, beliau dituntut buat bisa menghidupi keluarganya. Ia optimistis mampu melakukannya. Di sinilah instingnya sebagai pengusaha mulai nampak. Ia mulai mampu memandang sebuah peluang menjadi rupiah. Sesekali ayah mertua jua menelepon buat memberi saran dan masukan terkait cara sebagai pengusaha yg sahih.

Kuliner Jogja yg kala itu masih didominsasi citarasa lokal dilihat Herman sebagai peluang bisnis. Ia memutuskan membuka sebuah cafe. Di situ beliau menjual aneka kuliner yang mempunyai citarasa Kalimantan Timur. Apalagi, sang istri, Miranti merupakan seorang perempuan yang hobi memasak. Mereka berdua menjual jagung bakar dan pisang gapit. Semua itu dilakukan Herman di tengah kesibukannya menjalani kuliah.

?Pagi hari sehabis salat subuh, aku istirahat sebentar, sehabis itu eksklusif ke pasar membeli jagung. Pulang berdasarkan pasar lanjut kuliah sampai sore. Setelah itu langsung buka cafe jam 4 hingga tutupnya jam 10 malam. Sampai rumah kira-kira jam 11.30 malam. Jadi masa-masa itu adalah masa sulitnya saya mengatur waktu,? Kenang Herman.

Namun hal itu terus ia perjuangkan, demi untuk menjaring pelanggan lebih banyak lagi. Memang, pada awal beliau mulai buka bisnis, cafe tersebut terbilang sepi. Namun seiring berjalannya saat, pelanggan mulai rutin berkunjung. Terutama waktu malam minggu atau hari libur.

Usahanya itulah yang menjadi satu-satunya sumber penghasilan Herman. Namun toh, semua itu cukup buat menghidupi oleh istri. Bahkan bertahan hingga sang butir hati lahir pada tahun 2004. Usaha yang terbilang kecil tadi tidak terduga membuat omzet yang tidak mengecewakan. Herman terbilang sukses menggunakan bisnis pertamanya tersebut.

Belum puas menggunakan usahanya, Ia kembali mencari peluang baru. Kali ini yang sinkron menggunakan hobinya, yakni yg berhubungan dengan hewan. Ia menentukan buat berternak kucing Persia. Sedikit banyak, dia mendapat pengetahuan mengenai fauna dari tempatnya berkuliah.

Ia memperoleh kucing tersebut berdasarkan Bogor. Modal yg wajib dimuntahkan buat seekor kucing tidaklah murah. Ia harus merogoh kocek sampai Rp dua,lima juta untuk satu ekor indukan kucing saja. Artinya Rp lima juta buat sepasang kucing indukan. Di sini, Herman membeli 3 pasang kucing indukan. Tentunya berdasarkan uang output usahanya menjual makanan masakan tersebut.

Ternyata usahanya di bidang peternakan tidak kalah menguntungkan. Setiap 6 bulan sekali, kucing beranak kemudian setelah tiga bulan beliau jual hasil anakan kucing persia tadi. Untuk satu ekor kucing, laba yang diperoleh bisa mencapai 50 % berdasarkan harga kucing indukan. Usaha ini menjadi selingan sekaligus hobi bagi Herman. Apalagi ketika usahanya pada bidang masakan kuliner telah di-handle sang ke 2 anak buahnya.

Tetapi, sebelum sempat lulus berdasarkan kuliahnya di Jogja, Herman wajib pindah ke Balikpapan dalam tahun 2006 atas desakan orangtua. Orangtua cemas menggunakan keselamatan mereka dampak gempa yang terjadi pada Jogja kala itu. Apalagi sang cucu yg baru berumur dua tahun dalam ketika itu.

Dengan berat hati, Herman meninggalkan kuliah dan segala yg beliau capai di Jogja buat pulang ke Balikpapan. Di Balikpapan beliau sempat vakum selama satu tahun. Ini adalah proses adaptasi Herman dengan lingkungan dan suasana kerja yg ada pada Balikpapan.

Setelah vakum satu tahun, Herman mulai merintis usaha barunya pada Balikpapan. Yakni sebagai supplier bahan makanan. Ia poly mendapat pengarahan & motivasi dari ayah mertuanya. Ini yg menjadikannya langsung mampu lincah dalam usaha yg ia tekuni.

Bahkan dia menciptakan sebuah gudang yg terdiri berdasarkan penyimpanan dingin & penyimpanan kemarau. Penyimpanan dingin beliau pakai buat menyimpan daging impor, sedangkan penyimpanan kemarau dia pakai buat menyimpan sembako misalnya beras dan gula.

Pria yang jua hobi olahraga ini kemudian membuka lapangan futsal bernama Champion yang terletak pada MT Haryono pada akhir 2007. Usaha ini pribadi ramai. Apalagi pada ketika itu saingan nisbi sedikit. Itu juga yg mendongkrak penghasilannya.

Di sisi lain, usahanya pada bidang supplier tersebut hanya menanjak pada tahun pertama. Setelah itu tiga tahun berikutnya usahanya menurun selangkah demi selangkah karena administrasi dari beberapa perusahaan yg terbilang molor.

Itulah yang akhirnya menciptakan Herman trauma menggunakan global perdagangan. Ia kemudian menutup bisnis dan gudangnya di tahun 2010. Di tahun itu juga ia bermaksud lebih menaikkan usahanya di bidang olahraga dengan membuka arena & rental go kart. Namun usaha tadi mandek dan pula wajib rol tikar.

Kemudian Herman menentukan buat menyewakan gudangnya pada galat satu perusahaan logistik pada Kaltim. Itulah yg ketika ini sebagai penghasilan utama bagi Herman. Ditambah dengan output menurut lapangan futsal miliknya yg selalu ramai. Herman pula kadangkala menjadi broker atas bahan-bahan bangunan. Seperti batu gunung dan batu pecah palu.

Meski sudah meng-handle 3 bidang bisnis yg produktif. Tetapi, Herman masih belum puas. ?Rencananya ke depan, saya mau membuka sebuah galangan kapal. Tentunya masih di bidang jasa. Masalah tempatnya aku masih mencari yang cocok dan memiliki potensi yang bagus,? Ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *