Meski Kecil Dan Nampak Sepele, Wader Hasilkan Omzet Rp90 Jt/bln

Posted on

Meski Kecil Dan Nampak Sepele, Wader Hasilkan Omzet Rp90 Jt/bln Bagi sebagian orang, usaha ini mungkin dianggap sepele: menggoreng wader (ikan air tawar ukuran kecil). Tetapi, berkat usaha ini, Supriyadi (47), warga Dusun Santan, Guwosari, Panjangan, Bantul, meraup omzet Rp 90 juta per bulan dan memberi sumber nafkah bagi 12 pekerjanya.

Wader goreng produksi Supriyadi telah beredar di 79 toko sang-oleh & rumah makan di tempat Kabupaten Sleman & Kotamadya Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kini, homogen-homogen dalam satu hari Supriyadi menggoreng 200 kilogram wader & selalu habis terjual. Tak terdapat yang menyangka usaha yg dirintis Supriyadi dengan modal awal Rp 60.000 ini berkembang pesat.

Supriyadi memulai usaha wader goreng pada tahun 2000. Sebelumnya, ia bekerja sebagai buruh pabrik di Jakarta. Krisis ekonomi yang menghantam Indonesia tahun 1998 menciptakan Supriyadi kehilangan pekerjaannya karena terkena pemutusan interaksi kerja.

Supriyadi pun tetapkan balik ke kampung halamannya pada Bantul, DI Yogyakarta, & meninggalkan Jakarta.

Di kampungnya, Supriyadi tertarik menggunakan bisnis yg digeluti mertuanya, yakni menggoreng wader. ?Dengan modal Rp 60.000 saya ajak istri untuk membeli wader kemudian digoreng. Setelah dijual ternyata responsnya positif. Saya lalu menambah jumlah wader dengan mencari pinjaman sana sini,? Ujarnya, beberapa ketika lalu.

Sampai tahun 2006, bisnis wader goreng Supriyadi belum memperlihatkan hasil yg signifikan. Gempa bumi yang melanda Yogyakarta sempat menciptakan usahanya terhenti selama enam bulan.

Saat itu, Supriyadi seolah kehilangan semangat buat bangkit. Rumahnya rata dengan tanah. Namun, berkat dorongan keluarga, Supriyadi pun memulai kembali usaha wader goreng.

Tahun 2007, bapak 3 anak itu menerima bantuan modal Rp 40 juta berdasarkan pemerintah. Dana tersebut dimanfaatkan buat membeli alat-alat menggoreng, alat mengemas, dan peralatan pendukung lainnya. Semua peralatan tersebut diperlukan buat mengembangkan usahanya.

Kini wader goreng Supriyadi telah terkenal sebagai keliru satu sang-sang spesial Yogyakarta. Wader goreng yang krenyes-krenyes, sebagai daya tarik utama bagi konsumen.

Rahasia krenyes-krenyes wader goreng produksi Supriyadi itu terletak pada cara menggorengnya, yaitu melalui dua termin penggorengan.

Pertama, wader digoreng menggunakan tepung kemarau. Jika pesanan nir terlalu banyak, wader gorengan pertama ini mampu disimpan sampai satu minggu.

Tetapi, buat mendapatkan wader goreng siap konsumsi, wader gorengan pertama pada campur menggunakan tepung basah lalu digoreng balik . Hasil dari penggorengan tahap kedua ini sanggup tahan sampai 3 bulan.

Supriyadi juga peduli pada kemasan. Selain mengemas dalam plastik, ia jua menunjukkan wader goreng bungkus stoples seharga Rp 20.000. Adapun bungkus plastik harganya Rp 15.000 per 200 gr.

?Kemasan krusial buat menarik konsumen. Kalau dibuat menarik, mereka sanggup memanfaatkannya buat oleh-sang,? Ujar Supriyadi.

Kepercayaan konsumen pun beliau bangun dengan memberi agunan kelayakan produk. Supriyadi melengkapi usahanya menggunakan sertifikat pangan industri rumah tangga (PIRT). Usaha milik Supriyadi ini menjadi satu-satunya bisnis skala rumah tangga sektor perikanan di Bantul yang mengantongi PIRT.

Selama ini, lanjutnya, pengusaha makanan kurang peduli pada PIRT. Padahal, buat mampu menembus ritel terbaru, PIRT umumnya jadi kondisi primer.

Usaha wader goreng Supriyadi sekarang bukan hanya memberi penghasilan pada 12 pekerjanya, tapi juga pembudidaya ikan dari banyak sekali wilayah yang selama ini sebagai pemasok wader segar.

Supriyadi menerima pasokan wader segar berdasarkan Wonogiri, Purwodadi, dan Pati, Jawa Tengah, dan Bantul, DI Yogyakarta.

Supriyadi tak berhenti hanya puas sebagai pengusaha wader goreng. Ia masih memiliki obsesi buat membangun kampungnya menjadi daerah tujuan wisata masakan.

?Selama ini wader goreng hanya kami titipkan sehingga manfaat untuk warga sekitar nir optimal. Jika Dusun Santan sanggup jadi ikon wader goreng & mendatangkan poly pengunjung, warga pasti akan ikut menikmati,? Ujarnya.

Supriyadi sudah menciptakan rancangan pengembangan rumah makan di kampungnya. Dalam desain tersebut, dia mencantumkan pembuatan arena bermain anak dan taman. Dua sarana ini dievaluasi penting agar pengunjung menerima nilai lebih. ?Mereka tidak hanya makan, namun pula bisa bermain menggunakan keluarganya,? Celoteh beliau.

Diversifikasi produk pun dilakukan, dengan menciptakan ini sebagai strategi agar konsumen tidak jenuh. ?Saya jua sedang berpikir membuat kerupuk menurut limbah wader & udang. Selama ini limbahnya dibuang, padahal masih bisa dimanfaatkan,? Istilah Supriyadi.

Begitu juga menggunakan yang satu ini. Apabila Anda berkunjung ke Blitar, Jawa Timur, jangan lewatkan kesempatan bersantap hidangan bodoh ala Mak Ti. Warung kampung ini sudah tersohor dengan sajian kuliner khas desa, racikan tangan Supiyati, pemilik warung Mak Ti.

Bagi Mak Ti, yg namanya rezeki memang tidak akan lari ke mana-mana. Lihatlah, hasil bisnis yang sekarang dia gendong. Meski berlokasi pada ?Pedalaman? Blitar, Jawa Timur, nyatanya warung penjaja kuliner pengusung hidangan khas desa ini senantiasa ramai kedatangan pelanggan.

Mak Ti mengawali usaha warung makannya dari tahun 2000 silam. Boleh dibilang, Warung Mak Ti membarui pakem soal lokasi bisnis. Maklum, letaknya pada pelosok Blitar. Tepatnya di Dusun Ngelaos, Gododeso, Kecamatan Kanigoro, Blitar, kurang lebih sekitar 10 kilometer arah selatan Kota Blitar.

Bangunan warung makan ini tergolong ala kadarnya. Bahkan, lantainya masih berupa tanah alias belum terjamah semen. Dinding warung juga masih berupa bilik anyaman bambu reyot. Meski sederhana, satu hal yang patut menerima acungan jempol soal warung ini: kebersihan selalu terjaga.

Nyatanya, ketenaran Warung Mak Ti hingga ke mana-mana. Pembelinya berasal dari beragam status sosial. Mulai berdasarkan kelas yg bersepeda onthel alias rakyat jelata, sampai pejabat tinggi.

Salah satu pejabat yg pernah menyambangi warung Mak Ti adalah Boediono, Wakil Presiden RI ketika ini. Maklum saja, Pak Boed memang lahir dan akbar pada Blitar. ?Pak Boediono terakhir ke warung saya waktu kampanye pemilihan presiden, April kemudian,? Beber Mak Ti, awal November lalu.

Menu ikan kali

Lantas, apa yg menciptakan warung nasi Mak Ti begitu tenar & banyak dikunjungi orang? Mak Ti pun tak segan membuatkan rahasia. ?Saya menyajikan masakan spesial desa,? Kata wanita paruh baya ini.

Semua jenis masakan desa lengkap ada di sini. Sebut saja sayur lodeh, pepes teri, pecak terong, dan banyak sekali lauk pauk. Kebanyakan, hidangan lauk olahan Mak Ti berupa olahan ikan sungai, misalnya ikan gabus, lele, nila, dan wader. ?Semua jenis ikan jendhil (ikan kali) aku sajikan,? Istilah Mak Ti.

Sebagai variasi tambahan, ada pula olahan bandeng, dan sajian daging ayam. Tentu saja, sambal pedas penyengat lidah, plus nasi putih, menjadi pelengkap hidangan. Oh, iya, bagi yg senang kuliner bersantan, pada Warung Mak Ti juga terdapat.

Mau memahami cita rasanya? Cobalah mencomot wader goreng. Cocol dengan sambal pedas plus sejumput nasi. Masukkan ke pada verbal dan rasakan efeknya. Boleh dibilang, gurih daging wader berpadu dengan panasnya sengatan sambal, menendang pengecap. Mak nyos.., keringat sanggup mengocor di atas jidat.

Soal harga, dijamin tak akan menciptakan jidat Anda mengerut. Dengan duit Rp lima.000, Anda sudah mampu makan sepuasnya. Silakan tambah nasi sesuka hati. Tambah nasi pada sini perdeo. ?Kecuali nambah lauk, nanti baru dihitung,? Kata Mak Ti.

Pendek istilah, kepenatan & keputusasaan mencari lokasi Warung Mak Ti terbayar lunas sesudah menyantap aneka sajian di sini.

Para pengunjung pun tidak perlu berlama-lama menunggu pesanan datang. Maklum, Warung Mak Ti menyajikan ala prasmanan atawa self service.

Semua kuliner diletakkan pada atas meja akbar di bagian belakang warung. Nasi berada pada bakul bambu besar , sebagai akibatnya pembeli gampang mengambilnya sesuka hati. Sementara, lauk-pauk bertumpuk pada baskom besar .

Mak Ti berkata, resep rahasia olahannya terletak dalam racikan bumbunya. Mak Ti mencampurkan bawang merah, bawang putih, cabai merah, laos, dengan tempe bosok, diulek hingga lumat. ?Pada setiap kuliner, saya lebih menonjolkan rasa laos, sebagai akibatnya mampu lebih legit,? Terperinci Mak Ti.

Ibu tiga anak ini sengaja memisahkan loka memberikan makanan, area bersantap, & lokasi mengolah. Tempat kuliner matang terdapat pada bagian belakang warung seluas kira-kira 6 meter x 5 meter. Ruang santap pada bagian tengah seluas kira-kira 10 meter x 10 meter. Dapur berada di samping kiri warung seluas lebih kurang 20 meter x 10 meter.

Di dapur inilah, Mak Ti bersama beberapa pembantunya memasak banyak sekali camilan. Oh, ya, buat mengelola warung ini, Mak Ti dibantu 15 pekerja. Sebagian sebagai juru masak, sebagian lain berperan sebagai pramusaji.

Mereka harus bekerja ekstrakeras lantaran pengunjung selalu ramai, terutama pada pagi hari, jam makan siang, dan saat sore hari selepas jam kantor. Dalam sehari, pengunjung warung Mak Ti sanggup ratusan orang.

Bahkan, akhir pekan, pengunjung sanggup membeludak lebih dari 1.000. ?Saya membagi pekerja dua shift, 10 orang menurut jam 06.00?16.00, sedang lima orang pukul 16.00 hingga 23.00,? Istilah Mak Ti. Aktivitas kerja itu sekaligus memperlihatkan jam buka warung Mak Ti.

Dalam sehari, Mak Ti mampu menghabiskan satu kuintal beras, dan 5 kuintal ikan kali. ?Ikan-ikan itu saya beli pribadi dari pedagang pada Karangkates setiap hari,? Istilah Mak Ti. Karangkates adalah nama sebuah bendungan di selatan Kabupaten Malang.

Saban hari, homogen-homogen Mak Ti mampu mendulang omzet hingga Rp 7 juta, atau sekitar Rp 210 juta per bulan. ?Pada ketika akhir pekan, omzet saya naik menjadi Rp 10 juta, bahkan bisa lebih,? Ungkap Mak Ti.

Dari omzet sebanyak tadi, Mak Ti mengaku mengambil keuntungan aporisma 20%. ?Untungnya memang nir terlalu poly, lantaran saya lebih senang memberi pada orang lain ketimbang berpikiran bisnis,? Ucap Mak Ti. Toh, buat ukuran pada kampung, permanen saja perolehan laba Mak Ti tergolong luar biasa.

Yang kentara, dari usaha yg dirintis semenjak athun baru 2000 kemudian, kini Mak Ti hayati makmur. Bahkan, dia bisa membangunkan 3 rumah bagi ketiga anaknya.

Kendati kedainya telah kondang ke mana-mana, Mak Ti belum berniat memperbaiki warungnya telah nampak reyot dimakan usia. Ya, sanggup jadi, dia menduga warung sederhana ini justru membawa rezeki.

Setelah sukses di Blitar, apakah Mak Ti berniat membuka cabang? Soal ini, Mak Ti menjawab tegas, ?Saya nir akan membuka cabang di tempat lain,? Ungkapnya. Bahkan, dia pun nir berencana membuka warung serupa buat anak-anaknya. ?Anak aku tidak akan sanggup melanjutkan bisnis misalnya saya,? Kilah Mak Ti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *