Peluang Bisnis Budidaya Vanili Tembus Pasar Internasional

Posted on

Peluang Bisnis Budidaya Vanili Tembus Pasar Internasional Vanili merupakan penyedap rasa termahal ke 2 di dunia. Saking mahalnya, sebutan lain vanili adalah emas hijau. Harganya mahal karena budidaya & proses pasca panen lebih rumit dibandingkan tumbuhan lain. Setelah sempat booming, kini banyak petani meninggalkan vanili karena harganya jatuh.

Belakangan ini, petani kebun pada Indonesia poly yang meninggalkan budidaya vanili. Padahal, pada pasar internasional, harga komoditas ini masih lumayan tinggi. Mari kita tengok patokan harga dari perusahaan penjual vanili dari Amerika Serikat, Amadeus Vanilla Beans. Perusahaan yang menjual vanili menurut berbagai negara ini mematok harga vanili berasal Indonesia sebanyak US$ 38,99 per pon. Jumlahnya setara menggunakan Rp 363.607 per pon atau Rp 797.735 per kilogram (kg).

Tentu saja, ini adalah harga vanili kualitas baik. Sementara penentu kualitas vanili ada beberapa faktor. Misalnya, faktor bibit vanili, teknik budidaya, & teknik pengolahan pasca panen. Nur Aziz, pemilik Zahra Agro di Purworejo, Jawa Tengah, mengungkapkan, harga vanili Indonesia jatuh karena pengolahan pasca panen yg keliru. "Tidak ada yg mengarahkan cara pengolahan pasca panen yg sahih," istilah beliau.

Mestinya, dengan pengolahan yg sahih, harga jual vanili bisa lebih tinggi. Tengok saja output dari perkebunan Villa Domba pada Bandung, Jawa Barat, yg sudah 10 tahun melakukan budidaya vanili. Mereka menjual 95% produk vanili keringnya ke pasar ekspor, dan sanggup menerima harga yg baik karena pengolahan pasca panen yang pas.

Misalnya, buat vanili paling kecil dengan panjang antara 15-17 sentimeter (cm), harganya minimal US$ 50 per kg. Adapun harga vanili paling besar menggunakan ukuran lebih dari 20 centimeter mencapai US$ 100 per kg. "Salah satu penyebab kehancuran vanili Indonesia lantaran kualitasnya nir seragam," istilah Agus Ramada Setiadi, pemilik Villa Domba.

Akibat harga jual yg hancur, para petani rakyat pesimistis membudidayakan flora ini. "Saya ingin petani bisa mencicipi bahwa vanili ini masih punya aji, tapi sulit sekali," ujar Aziz. Apalagi, pernah terjadi, terdapat orang yang membeli vanili petani warga ini menggunakan harga sangat rendah. Akhirnya penduduk pada sekitar Zahra Agro memangkas habis tanaman vanili mereka atau tidak menyilangkannya sehingga tidak berbuah.

Ternyata, Agus pernah mengalami kejadian serupa. Dia pernah menemui petani yg menjual vanili basah ke bandar menggunakan harga hanya Rp dua.000 hingga Rp 5.000 per kg. "Kami sendiri membeli vanili basah Rp 30.000 sampai Rp 50.000 per kg. Jadi harga kami lebih baik hingga 10 kali lipat," istilah dia.

Informasi mengenai harga yg aduhai ini belum banyak menyebar ke pendengaran para petani. Sehingga, masih poly yg enggan membudidayakan vanili. Villa Domba bisa memproduksi 1-1,lima ton vanili kemarau setiap panen. Jadi, total penjualan antara US$ 50.000-US$ 75.000 untuk vanili ukuran mini .

Produksi ini dari berdasarkan huma sendiri & produksi menurut para petani plasma dan kemitraan Villa Domba. "Kami masih kekurangan pasokan buat memenuhi permintaan ekspor hingga dua ton lagi," kata Agus.

Butuh perhatian ekstra

Indonesia pernah menjadi pembuat vanili terbesar pada dunia tahun 2007. Tetapi, harga yg tidak niscaya dan kualitas vanili yang tak seragam membuat posisi itu sekarang tergeser. Budidaya vanili memang sulit. Tanaman yg sensitif ini butuh penanganan ekstra & campur tangan insan.

Data Food & Agriculture Organization (FAO) tahun 2007 menunjukkan, Indonesia adalah produsen vanili terbesar dunia. Total produksinya mencapai 3.700 ton. Madagaskar menjadi produsen terbesar kedua dengan total produksi 2.800 ton.

Namun, produksi Indonesia terus menurun dan kini negara di benua Afrika itulah yang jadi produsen vanili terbesar di dunia.

Apa penyebabnya? Kualitas vanili Indonesia tidak seragam karena proses pengeringan yang jelek. Sebaliknya, vanili Madagaskar memiliki kualitas yang lebih seragam. Sebagai pembanding, kini harga vanili premium yang berasal dari Madagaskar di Amadeus Vanilla Beans US$ 59,99 per pon. Sedangkan harga vanili Indonesia US$ 38,99 per pon.

Memang, budidaya vanili sulit. Vanili adalah tanaman yang sensitif dan perlu penanganan ekstra. Terlebih, tanaman ini butuh bantuan manusia untuk melakukan pembuahan. Di negeri asalnya, Meksiko, tanaman ini bisa melakukan pembuahan tanpa bantuan manusia. Maklum di sana , ada serangga Melipona yang membantu penyerbukan bunga vanili.

Vanili merupakan tanaman sejenis anggrek. Bedanya, anggrek hanya memiliki akar lekat sedangkan vanili berakar tanah. Ada tiga varian vanili yang menjadi andalan petani untuk dibudidayakan dan mengambil buahnya. Ketiga varietas vanili ini adalah planifolia, pompona, dan black tahiti. Petani Indonesia dan Madagaskar lebih banyak membudidayakan varietas vanili planifolia.

Sebelum mulai menanam vanili, petani harus memperhatikan lingkungan tempat budidaya. Vanili, yang habitat aslinya di hutan ini, hanya butuh 50% – 55% sinar matahari. Lebih dari itu, daun vanili akan menguning dan tentu saja berpengaruh pada hasil panennya.

Penyesuaian lingkungan bisa dilakukan dengan menanam pohon peneduh, enam bulan sebelum penanaman vanili. Petani dapat menanam pohon gala atau kaliandra. Di Malaysia, petani vanili membangun tiang beton dan memberi jaring di bagian atas agar tanaman vanili diteduhi.

Langkah berikutnya, mengolah tanah tempat penanaman vanili yang membutuhkan tanah lempung dan humus untuk tumbuh subur. Demi menunjang pertumbuhan, tanah perlu digamburkan dan dipupuk dulu. Tahun pertama merupakan masa kritis vanili. Petani harus memperhatikan perambatan tanaman. Agar lebih baik, petani bisa memasang media perambatan vanili. Selain itu, petani harus menyingkirkan bekicot yang suka memakan vanili.

Pemupukan rutin berlangsung dua kali per tahun. “Satu tanaman vanili butuh lima kilogram (kg) pupuk,” kata Agus Rambada Setiadi, pemilik perkebunan vanili Villa Domba di Bandung. Dalam satu hektare lahan, dia mengatakan, ada 3.000 tanaman vanili. Jadi, dalam setahun perlu pupuk kandang hingga 30 ton. Dengan asumsi harga pupuk kandang Rp 1.000 per kg, ongkos pupuk dalam setahun Rp 30 juta. “Pemupukan ini merupakan biaya terbesar dalam menanam vanili,” katanya.

Sekilas tentang tanaman vanili

Vanili (Vanilla planifolia) adalah tanaman penghasil bubuk vanili yang biasa dijadikan pengharum makanan. Bubuk ini dihasilkan dari buahnya yang berbentuk polong. Tanaman vanili dikenal pertama kali oleh orang-orang Indian di Meksiko, Negara asal tanaman tersebut. Nama daerah dari vanili adalah panili atau perneli.

Morfologi Vanili

Batang tanaman vanili kira-kira sebesar jari, berwarna hijau, agak lunak, beruas dan berbuku. Panjang rata-rata 15 cm. Tumbuhan melekat pada pohon atau tonggak yang telah disediakan.

Daun vanili merupakan daun tunggal. Letaknya berselang-seling pada masing-masing buku. Warnanya hijau terang, dengan kepanjangan 10-25 cm serta lebar 5-7 cm. Bentuk daun pipih, berdaging, bulat telur, jorong atau lanset dengan ujung lancip. Tulang daun sejajar, tampak setelah daun tersebut tua atau mengering, sedangkan pada waktu daun masih muda tidak jelas kelihatan.

Rangkaian bunga vanili adalah bunga tandan yang terdiri dari 15-20 bunga. Bunga keluar dari ketiak daun bagian pucuk batang. Bentuk bunganya duduk, berwarna hijau-biru agak pucat, panjang 4-8 cm dan berbau agak harum.

Bunga vanili terdiri dari 6 daun bunga (3 sepal, 3 petal) yang terletak dalam dua lingkaran. Daun bunga bagian luar (sepal) sedikit lebih besar daripada bagian dalam petal. Satu dari petalnya berubah bentuk, menggulung seperti corong yang disebut BIBIR (ROSTELUM).

Reproduksi

Di Meksiko tanaman vanili dapat berbuah karena ada serangga yang membantu penyerbukannya.

Putik pada bunga vanili tertutup oleh bibir, sehingga penyerbukan secara alamiah terhalang, kepala sari (anther) berisi dua butir tepung sari, letaknya lebih tinggi daripada kepala putik. Keistimewaan dari bunga vinili yaitu kepala putiknya berisi cairan perekat. Bila tepung sari diletakkan disana akan segera menempel dan terjadilahpembuahan.

Bunga vanili yang telah mekar hanya dapat bertahan satu hari. Jika bunga yang telah mekar itu tidak segera dikawinkan, akan layu dan kemudian rontok. Oleh sebab itu harus sering keliling kebun untuk mengontrol perkembangan vanili.

Saat yang baik untuk mengawinkan bunga vanili adalah pada pagi hari. Hari-hari basah dan kering sekali tidak baik untuk penyerbukan. Berhasil atau tidaknya penyerbukan akan tampak setelah dua atau tiga hari. Bunga yang berhasil diserbuki akan berubah warnanya menjadi lebih pucat. Enam buah daun bunganya akan layu tetapi tangkai bunganya tetap menempel pada tandan bunga. Bunga yang tidak berhasil diserbuki akan gugur. Setelah terjadi pembuahan antara 10-15 buah, bunga pada tandan yang masih kuncup sebaiknya dipangkas, agar zat makanan yang dihisap oleh tanaman diakumulasikan pada pembentukan dan pembesaran buah.

Pada waktu bunga mekar, panjang bakal buah 2-4 cm dengan garis tengah 5 mm. Satu minggu setelah penyerbukan bakal buah itu dapat mencapai panjang 8-10 cm. Lima minggu kemudian buah telah mencapai panjang maksimal 20-25 cm, dengan garis tengah 1,5 cm. Setelah buah mencapai perkembangan yang maksimal, lima atau enam bulan kemudian buah akan masak.

Warna buah mula-mula hijau muda, kemudian hijau tua disertai dengan garis-garis kuning menjelang masak. Buah yang telah masak berwarna coklat tua. Jika dibiarkan masak di pohon, buah akan pecah menjadi dua bagian, dan menyebarkan aroma vanili.Biji buah kecil-kecil, banyak sekali jumlahnya, berwarna hitam dan berukuran kira-kira 0,2 mm.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *